Montag, 2. Juni 2014

Kerikil Wasiat


Kerikil itu masih kusimpan
benda remeh tak berharga
namun bagiku sangat berarti
kerikil itu adalah buah bekelmu
  yang setiap hari kau jumput 
 kau genggam saat bola terpantul
  kerikil itu jadi penggantimu
  kerikil wasiat seabadi cintamu
  kugenggam dalam rasa selamanya
  hingga kau datang kembali 
 AKU MENANTIMU

(ad) - 28.04.14
 

Mutiara Timurku


Langitku menangis …
air mata mengalir
jatuh dan hilang ke laut 
kerang-kerangpun turut

oh … mutiara timur …
ku ingin jadi milikmu
tak usah takut ombak menghantam
ku ingin membawamu diam-diam

kau adalah …
duka dan suka citaku 
air mata surgawi dalam sukmaku
Langitku menangis …
dengan tulus jadikanlah aku 
penadah air matamu

oh Gusti ...
peliharalah mutiara timurku


Indriati See - Hofheim im Ried, 27 Januari 2011

Published in Kompasiana

Ketidakpastian


Ada rasa sakit menusuk hatiku 
hari demi hari
dan …
karena kusuka kamu lebih dari sekedar
ya ...
  kesalahan besar telah kubuat
dimana …
hatimu terbakar karenanya
ya …
siap ...
ku akan bersikap 
bila …
kau ingin menghapusnya
namun kurobeknya 
ku akan bertahan 
menderita …
tersiksa …
tetapi ku tahu 
kau tak punya pilihan lain
walaupun ini sangat menyakitkan
ku yakin untukmu akan lebih menyakitkan lagi
Oh Gusti ! maafkanlah kami 


Indriati See - Hofheim im Ried, 25 Januari 2011

Published in Kompasiana 

Bisu



Surya tenggelam, senja pun datang
untuk beberapa jam, bisu pun hadir
lihatkah kau dhana membara ?
dengarkah kau ketika kupanggil dalam mimpi ?
mengawasi tidurmu, bara hatiku
berdekatan, memujamu diam-diam
terdengar nafasmu, kurasa hangat
membelai pipimu, memohon maaf
sedihnya mimpiku, menggangu pikiran
karena bukan
perpisahan atau kematian
jangan padamkan dhana yang membara
jangan pisahkan takdir kita
ketika dalam kuburku kelak
tempatku beristirahat
merasakan sakit dalam lembabnya selimut
setiap malam sukmaku yang abadi
menunggu kecupan lembut dari cintamu
kekasihku




Indriati See - Hofheim im Ried, 22 Januari 2011

Published in Kompasiana

Sonntag, 1. Juni 2014

Penantian


Cahaya dikejauhan …
sedikit mendekat bagianku 
dan …
kosong bagianmu 
lelah …
sepi …
malam tanpa kantuk
terjaga …
sulit untuk berkata …
cemas …
sendiri …
tetapi …
harapan ada …
mungkin kau kembali ke sisiku
Oh Gusti kumohon …

Indriati See - Hofheim im Ried, 26 Januari 2011

Published in Kompasiana 
Music


Dibentengi Rasa Malu ...


Entah kemana ku harus berlari
dari kejaran bayang-bayangmu
yang setia menemani lamunan
kala berjauhan adalah kenyataan
maka sukmaku melukis dirimu
membingkainya di sanubari
pada warna-warni kerinduan
diuntaian syair tertatih-tatih
dikenyataan kepiluan rasa
dalam benteng rasa malu
tak terungkapkan lewat keluhan
melupakanmu adalah kemustahilan
walau sesaat dipejaman mata saja
sesungguhnya rasa ini menyiksaku
SAMPAI KAPANKAH BEGINI ?

(ad) – 28.04.14

Senja Indah Tanpamu




Ilalang itu berayun perlahan
dibelai alun-alun sang bayu
rama-rama bergoyang terbang
ditimpa canda mentari soreku
ada diam dalam damai hatiku
walau sunyi tanpamu disisiku
aku tersenyum dalam senandung
dialun melodia memory country
ah seandainya ada kau bersamaku
kan kusunting setangkai kembang
kan kugubah sebuah tembang
kuselipkan dirambut lembutmu
kusenandungkan dihati baikmu
menari condong perlahan sore berlalu
senyatanya aku disini sendiri disini
ditatapan fatamorgana cinta berjauhan
ada kamu dihatiku menari dalam rindu
 
KESENDIRIAN INI KUPAGUT SENDIRI
 
(ad) - 28.04.14