Samstag, 7. Juni 2014

Walau Dicibir Tetap Maju




Penjual jamu gendong gontai
. melintas dengan senyuman .
senyum yang dilakukan terus
tak perduli apa berita di radio
jalan dan gang didatanginya
dengan sapa halus dan merdu
ke insan berdasi dia tersenyum
ke kuli bangunan pun dia ramah
tak ada pilihan selain suka ria
di belantara kehidupan tersulit
tak ada sebuah keluhan keluar
aku malu terhadap diri sendiri
yang merasa lebih berpendidikan
tetapi masih memandang status
melihat seseorang dari pakaian
keyakinan berdasar kendaraan
duhai penjual jamu gendong
kau lebih budiman dari kami
meski sering dipandang miring
toh kau tetap di jalur tradisimu
becik ketitik ala mesti ketara
 
KAU PAHLAWAN KELUARGA
 
(ad) - 04.06.14


Ksatria di Medan Juang



Kata-kata seandainya
hanyalah mimpi nina bobo
yang membuat kita melamun
menunggu dan tak berbuat
bersiap dengan sejuta alasan

kata-kata walau pun
adalah sebuah tekad membaja
yang membuat kita berani
berbuat tanpa banyak alasan
seberapa sulit pun keadaan

kata-kata sukses
adalah suatu keadaan yang nyata
dengan disertai bukti dan rasa syukur
yang membuat kita semakin beriman
dan berpikir positif pada kehendakNya

kata-kata maju terus
adalah tekad membara tak kenal keluhan
yang bertekad menginjak kaki di puncak
yang berani arungi tinggi gelora samudra
karena percaya serambut pun Tuhan jagai

tanpa alasan dan dalil serta dalih
dalam lagu tiada gunung terlalu tinggi
buat didaki di siang atau pun malam
tak ada samudra yang tak bertepian
buat didarati saat teduh dan gelora

BERANI BERIKAN BUKTI BUKAN JANJI
 
(ad) - 04.06.14


Tak Seorang Pun Mengerti


Tak seorang pun mengerti
.. jika pendirianmu berubah ..
secara tiba-tiba, dari kemarin ke kini
kau yang berkata padaku “salah”
.
Jangan pernah berkata: ”Aku cinta padamu”
.. jika kau tak bisa rasakan ”Cinta” ..
Jangan pernah ungkapkan perasaan
jika kau tak punya ”Rasa”
.
Jangan kejar dia yang merasa bahagia tanpamu
tetapi carilah seseorang yang tak dapat hidup tanpamu
...

*Puisi tuk diri sendiri*


Indriati See - Hofheim im Ried, 01 Juni 2011

Published in Kompasiana




Freitag, 6. Juni 2014

Ku Tak Akan Mati Akal

Surya menyengat kulit, lembabnya udara,
…. semilir bayu menyejukkan sukma ….
ku tahu dan tak kan pernah menyesali
ketika tercium kembali harummu
.. membangkitkan kenanganku ..
saat-saat  kita saling menyentuh
cinta buta yang mengikat
hanyut terbawa mimpi, sangat lembut
penuh harapan dan karenanya, aku lelah
. kucoba menulis kata-kata cinta .
tentang dua insan yang terluka
tentang harapan tak bertepi
dalam setiap puisi
Terjaga dari satu mimpi
akan suatu tempat, suatu saat
dimana kita saling berpadu sesaat
Gelora cinta bagai
ombak di samudra
ternikmati
dan jika
besok ku harus mati
ku siap dengan sepenuh hati
Betapa pun kuatnya keinginan itu
dapat kurasakan bahwa aku keliru
. kecewa pun datang menertawaiku .
Walau pun,
cinta ini harus berakhir
. ku tak akan mati akal .
sambil bertanya jika itu benar
hanya Dia yang tahu tentang „kekal“

*Perjalananku di Dunia Fiksi*


Indriati See - Hofheim im Ried, 23 Mai 2011

Published in Kompasiana 
Music